Rekomendasi Buku Terbaik Di Beberapa Negara

Membicarakan tentang buku, jelas benda yang satu ini merupakan favorit, khususnya bagi para pelajar. Terlebih lagi, setiap negara memiliki sisi kelam nya masing-masing yang terkadang hanya bisa dituangkan melalui sebuah buku sejarah. Mulai dari bagaimana sejarah sebuah negara masih saling berperang untuk memperluas wilayah negara mereka masing-masing, kemudian bagaimana negara tersebut terbentuk dan merdeka, hingga bahkan ada pula buku yang menceritakan masa sulit negara tersebut setelah adanya kemerdekaan.

Di era modern seperti sekarang ini, jelas kaum pelajarnya bisa membaca hampir seluruh jenis buku dengan akses yang sangat mudah, sehingga mayoritas dari pelajar muda saat ini wawasannya lebih luas jika dibandingkan dengan para pelajar terdahulu yang masih terbatas bahkan sekedar untuk membaca sebuah buku. Dari semua jenis buku yang sudah diterbitkan, kali ini mari kita membahas mengenai buku apa saja yang bisa direkomendasikan untuk para pelajar di Indonesia, bahkan sampai ke mancanegara. Berikut adalah daftar buku yang bisa dibaca oleh para pelajar jika ingin mempelajari tentang sejarah dari berbagai negara terkenal. Apa saja negara itu ? Mari kita simak !

1) War and Peace – Leo Tolstoy (Rusia)

Ketika membahas soal perang dan terbentuknya negara, pasti negara pertama yang terlintas di benak kita adalah Rusia ? Ya ! Bagaimana tidak ? Rusia sendiri sebagai ‘pencetusnya’ dari Perang Dunia I dan II. Negara mantan bentukan dari Uni Soviet ini merupakan salah satu negara besar yang paling ditakuti oleh negara-negara lain di seluruh dunia, karena banyaknya jumlah prajurit perang dan senjata alutsita yang biasa mereka gunakan dalam teknik berperang. 

Banyaknya warga sipil bahkan tentara perang yang gugur dalam perang itu, membuat banyak orang yang masih hidup menjadi mengidap PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Tahukah anda jika sebenarnya sebelum terjadinya masa Perang Dunia I dan II, di Negara Rusia sendiri sudah terdapat buku karya Leo Tolstoy yang berjudul “War and Peace”. Buku ini telah diterbitkan pada tahun 1865, dengan judul asli “Война и миръ”, merupakan buku yang berjumlah 1.225 halaman dan menceritakan tentang sejarah invasi dari Bangsa Perancis ke Rusia pada tahun 1812 (pasca reformasi Rusia). “War and Peace” ini enak apik menggambarkan secara detail bagaimana invasi tersebut sangat berdampak pada masyarakat Tsar selama era pemerintahan Napoleon. Buku yang juga menceritakan bagaimana kisah dari lima keluarga Aristokrat Rusia ini dianggap sebagai salah satu karya sastra terbaik milik Leo Tolstoy. Sebab, inti dari buku ini membahas seluruh aspek yang melekat pada kehidupan setiap individu, seperti caranya yang menyarankan agar kita sebagai makhluk sosial bisa menjadi orang yang lebih berguna dalam kehidupan bermasyarakat, yakni dengan lebih menerapkan sifat yang pemaaf dan rasa hormat kepada sesama, tanpa memandang jenis kelamin, pekerjaan, suku, kasta, agama, dan bahkan kewarganegaraannya.

2) Analects – Confucius (China)

Meskipun dahulu kala di perbatasan China-Jepang juga pernah terjadi perang yang lumayan besar. China juga dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki tentara perang terbanyak setelah Rusia, tapi jauh sebelum perang tersebut akhirnya meletus di negara China itu sendiri terdapat ajaran Konfusianisme. Buku yang telah ditulis antara tahun 475 SM dan 221 SM, ini berisi ajaran filsuf kuno yang sampai sekarang ini masih menjadi salah satu buku yang digemari oleh kaum pelajar.

Banyak lembaga pendidikan di China yang masih menerapkan nilai-nilai positif yang terdapat dalam buku “Analects” tersebut, beberapa diantaranya seperti : mengajarkan para siswa agar bisa menerapkan rasa hormat mereka kepada orang yang lebih tua, mau belajar dari kehidupan orang lain, tidak boleh memandang status seseorang, bertindak dengan menggunakan pemikiran yang kritis, dan masih banyak lagi nilai-nilai lainnya yang dapat didapat dari membaca buku tersebut. Berkat ajaran yang baik itulah, mengapa pada akhirnya buku ‘Analects” ini menjadi tonggak utama lahirnya budaya Tionghoa di daratan China.

3) Autobiography : The Story of My Experiments With Truth – Mohandas Karamchand Gandhi (India)

Berbicara tentang India, maka yang paling sering dibahas disana adalah tentang lumpuhnya penegakkan HAM bagi masyarakatnya. Mayoritas warganya mendapat perlakuan yang tidak adil dari negara, bahkan bagi seorang wanita. Di ranah politik bahkan publik, mereka hanyalah dianggap sebagai ‘warga negara kedua’ yang kurang mendapat hak selayaknya para lelaki di negara tersebut.

Sebagai salah satu tokoh politik terkenal di India, Mahatma Gandhi berupaya untuk memperjuangkan kemerdekaan India yang kala itu masih dalam wilayah jajahan Inggris. Setelah India merdeka pada tahun 1947, negara tersebut mengalami perpecahan wilayah, yakni India (yang mayoritasnya menganut ajaran agama Hindhu), dan Pakistan (yang kebanyakan penduduknya memeluk agama Islam). 

Mendengar hal tersebut, membuat Mahatma Gandhi tidak setuju, meskipun secara agama ia menganut agama Hindhu, tapi Gandhi juga bersifat open-minded dengan ajaran dari agama lain, seperti Islam dan juga Kristen. Gandhi percaya bahwa semua umat manusia mempunyai hak untuk hidup bersama dengan damai di dalam satu kesatuan negara tanpa harus saling membedakan agama masing-masing. Tapi jelas banyak pihak yang kontra dengan Muslim menolak pemikiran Gandhi tersebut karena menurut mereka opini seperti itu dianggap terlalu memihak kepada masyarakat yang beragama Muslim. Sehingga pada 30 Januari 1948, Mahatma Gandhi dibunuh oleh seorang nasionalis Hindhu bernama Nathuram Godse dengan menggunakan pistol.

Prinsip utama Gandhi yang masih terkenal sampai sekarang adalah “satyagraha”, yang artinya “jalan menuju kebenaran”. Prinsip yang sangat sederhana ini diambil berdasarkan kepercayaan dari agama Hindhu tradisional, yakni : “satya” (yang artinya kebenaran), dan “ahimsa” (yang artinya anti kekerasan).

4) Korea’s Place in the Sun – Bruce Cumings (Korea Selatan)

Meskipun sekarang ini negara Korea Selatan sedang mengalami ketenaran dalam skala Internasional, tapi siapa sangka jika dahulunya Korea Selatan juga mengalami ‘masa kelamnya’ sendiri. Sempat mengalami perang saudara dengan Korea Utara dan masih terjadi hingga saat ini, tidak menghalangi negara dengan sebutan “hallyu wave” tersebut untuk semakin maju lagi terutama dalam sektor perindustrian, pariwisata, teknologi, dan bahkan pendidikan.

Di Korea Selatan, terdapat 3 dinasti yang terkenal, yakni : Silla (berlangsung pada 57 SM – 935 M), Goryeo (918 M – 1392), dan Joseon (1392 – 1897). Selama dinasti tersebut Korea mengalami banyak pergantian raja karena pada saat itu peperangan masih sering terjadi, terutama dengan Bangsa China dan Jepang. Perang yang terjadi hingga pada abad ke-20, hanya berfokus pada upaya untuk melakukan ekspansi wilayah negara mereka masing-masing.

Buku “Korea’s Place in the Sun” ini semata-mata bukan hanya menceritakan tentang peradaban Korea Selatan pada abad ke-20 saja, tetapi juga membahas bagaimana keadaan Korsel selama peristiwa kolonialisme, Perang Dingin, hingga pada akhirnya mengalami krisis moneter di tahun 1998 sebagai dampak dari adanya inflasi IMF (International Monetary Fund). Namun apa yang di dapat oleh Korsel saat ini tentunya tidak luput dari kerasnya perjuangan mereka dahulu. Apa yang terjadi di Korea mencerminkan bahwa tidak semua hal dipenuhi dengan matahari yang hangat, tetapi semua sebanding dengan pengorbanan yang pernah dilalui.

5) Laskar Pelangi – Andrea Hirata (Indonesia)

Di Indonesia juga terdapat buku yang cukup terkenal, buku karya dari Andrea Hirata ini sukses mengambil hati pembaca hingga ke mancanegara. Buku yang mengambil latar tentang perjuangan 10 siswa dan seorang guru di Belitung ini dengan apik menceritakan bagaimana perjuangan mereka dalam hal pendidikan. Kesepuluh murid tersebut sudah harus berjuang bangun tengah malam hingga bahkan menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk ke sekolah mereka yang jaraknya tidaklah dekat. Setiap anak memiliki perjuangannya masing-masing, ada yang dilarang orang tuanya untuk pergi ke sekolah, ada yang merupakan anak dari etnis minoritas Tionghoa yang pada awalnya sulit untuk beradaptasi, dan beberapa karakter lainnya. 

Kisah ini semakin mengharukan ketika tokoh bernama “Lintang” memutuskan untuk berhenti sekolah tanpa berpamitan. Sebagai salah seorang murid yang berbakat, berhentinya dia di sekolah lantas menjadi fokus utama seorang guru di sekolah mereka. Alasan mengapa Lintang berhenti sekolah karena ayahnya yang bekerja sebagai nelayan tidaklah pulang setelah berminggu-minggu pergi ke laut, sedangkan dirumah ia hanya tinggal berdua saja dengan adiknya yang masih kecil. Perjuangan mereka dalam mencapai cita-cita tidaklah mudah, tapi mereka semua berusaha yang terbaik bagi hidup mereka masing-masing. Oleh karena itu buku Andrea Hirata ini dianggap sangat memotivasi, karena terdapat banyak hal positif yang dapat dipetik oleh para pembaca, yakni : sifat kerja keras, optimisme, kerja keras, dan berani berkorban terutama dalam menghadapi tantangan hidup.